Tampilkan postingan dengan label Komunitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunitas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2024

Taman Budaya Sulawesi Tengah ; Timbul Tenggelam

Sumber Foto : Masduki

Ini adalah tulisan pengamatan terpanjang saya diawal 2024 dan mari kita berjalan-jalan ke pusat-pusat kesenian di beberapa negara. Di benua Eropa tepatnya di Jerman, sistem informasi kegiatan kebudayaan terbentuk sangat rapi lewat publikasi bulanan dan informasi anjungan komputer bisa dengan mudah di akses di lobi melalui internet. Semua didukung manajemen dan infrastruktur yang baik. Gasteig adalah pusat kebudayaan terbesar di Munich, dibuka sejak 1985, terdiri dari puluhan ruang pemutaran film, panggung musik terbuka dan musik kamar, rumah opera dunia Philharmonic, perpustakaan kota terbesar, dilengkapi beberapa kafe. Hampir seluruh even tahunan seperti Munich Film Festival, book fair, Munich Art Biennale digelar disini. Lokasinya di kawasan bersejarah Rosenheimer Strasse di bibir sungai Isar, berjarak 5 km dari gedung pusat LMU, tempat perkuliahan yang sumpah keren banget. Di setiap Rabu sore dan Jumat siang anda bisa duduk santai menikmati sajian musik berkelas, sambil membuka akses Wifi gratis supercepat. Oh ya, menariknya gedung Gasteig bersebelahan dengan masjid kecil milik warga Turki.

Sabtu, 19 Desember 2020

Bincang Seni #8 - Membaca Teater Hari Ini

Tahukah kamu, kalo era 1990-an, dunia teater itu telah bereksperimen dengan ruang maya. Di tahun 1993, Brenda Laurel menggunakan Virtual Reality melalui display head-mounted, kemudian hadir pula Char Davies Osmose yang bereksperimen dengan pelacakan gerak real-time berdasarkan pernapasan dan keseimbangan disertai suara 3D interaktif pada tahun 1995. Setahun sebelumnya, Gromala dan Sharir melakukan pertunjukan tari melalui dunia maya dengan boneka digital. Saat virtual reality digunakan secara interaktif, hadirnya pengeksplorasian terhadap hal-hal baru. Keterikatan tradisional antara Aktor-ruang dan penonton menjadi sebuah spectactor atau sebutlah saksi/pemandang.

Bagaimana seorang dosen desain teater Andrea Moneta menggunakan metaverse Second Life atau dunia maya 3D yang dapat membuat avatar serta objek-objek lainnya untuk menciptakan ruang pertunjukan pada teater? Bukan hanya menciptakan set dan pertunjukan virtual, ia pun melahirkan penonton avatar. Teater Virtual sebenarnya memungkinkan kita untuk bisa merancang set yang terbatas, avatar bisa diciptakan berjalan, berlari serupa kerja para aktor di panggung.