Rabu, 14 Februari 2024

Taman Budaya Sulawesi Tengah ; Timbul Tenggelam

Sumber Foto : Masduki

Ini adalah tulisan pengamatan terpanjang saya diawal 2024 dan mari kita berjalan-jalan ke pusat-pusat kesenian di beberapa negara. Di benua Eropa tepatnya di Jerman, sistem informasi kegiatan kebudayaan terbentuk sangat rapi lewat publikasi bulanan dan informasi anjungan komputer bisa dengan mudah di akses di lobi melalui internet. Semua didukung manajemen dan infrastruktur yang baik. Gasteig adalah pusat kebudayaan terbesar di Munich, dibuka sejak 1985, terdiri dari puluhan ruang pemutaran film, panggung musik terbuka dan musik kamar, rumah opera dunia Philharmonic, perpustakaan kota terbesar, dilengkapi beberapa kafe. Hampir seluruh even tahunan seperti Munich Film Festival, book fair, Munich Art Biennale digelar disini. Lokasinya di kawasan bersejarah Rosenheimer Strasse di bibir sungai Isar, berjarak 5 km dari gedung pusat LMU, tempat perkuliahan yang sumpah keren banget. Di setiap Rabu sore dan Jumat siang anda bisa duduk santai menikmati sajian musik berkelas, sambil membuka akses Wifi gratis supercepat. Oh ya, menariknya gedung Gasteig bersebelahan dengan masjid kecil milik warga Turki.

Senin, 12 Februari 2024

Pelabuhan Donggala; Dulu dan Kini

Kerajaan Banawa hadir sebagai salah satu pusat peradaban di Sulawesi Tengah. Mulanya, pelabuhan di Donggala hanyalah berupa dermaga kecil tempat para nelayan lokal menambatkan perahunya. Pelabuhan ini sering menjadi persinggahan sementara perahu-perahu tradisional untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan pelayaran. Nama Donggala pun tercatat dalam naskah-naskah lama yang di antaranya merupakan catatan perjalanan para petualang. Salah satunya adalah artikel dari J.V. Mills berjudul Chinesse Navigatiors in Insulinde about A.D. 1500 dalam Archipel (Vol.2, 1979) yang menyebutkan bahwa Donggala sudah dicatat dalam laporan dan panduan pelayaran Cina pada tahun 1430 (hlm. 79).

Sumber Foto : Wikicommon

Lokasi Donggala yang strategis, terletak di tengah jalur niaga Selat Makassar, membuatnya cukup mudah diakses dari utara, termasuk oleh para pelaut Cina, yang hendak menuju Makassar dan Jawa atau yang sedang dalam perjalanan pulang dari Sumba dan Timor. Salah satu daya tarik Banawa kala itu adalah pohon cendana. Donggala pun mulai ramai dikunjungi kaum saudagar dari berbagai macam bangsa yang tergiur untuk mendapatkan cendana dari Donggala disertai hasil bumi lainnya, seperti rotan, damar, kelapa, serta rempah-rempah.